surabaya

BMKG Prediksi Musim Hujan Surabaya Mundur hingga Februari 2027, Ini Penyebabnya

Diperbarui 14 September 2026

BMKG Prediksi Musim Hujan Surabaya Mundur hingga Februari 2027, Ini Penyebabnya
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo

BMKG Prediksi Musim Hujan Surabaya Mundur hingga Februari 2027, Warga Diminta Waspada

SURABAYA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak fenomena El Niño yang diperkirakan masih berlangsung hingga Februari 2027.

Fenomena tersebut berpotensi menyebabkan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur. Kondisi ini juga diperkirakan dapat membuat awal musim hujan di Surabaya datang lebih lambat dari biasanya.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan, menjelaskan El Niño merupakan fenomena iklim yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di kawasan Pasifik bagian tengah dan timur.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi pola cuaca di Indonesia dengan menekan pertumbuhan awan hujan sehingga curah hujan menurun. Akibatnya, musim kemarau berpotensi terasa lebih kering.

“Secara umum, dampak El Niño di Indonesia adalah berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah. Ketika curah hujan berkurang, sumber daya air seperti waduk, sungai maupun sumur juga bisa mengalami penurunan,” ujar Taufiq, Sabtu (12/9/2026).

Menurut Taufiq, kemarau yang berlangsung bersamaan dengan pengaruh El Niño berpotensi lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Sejumlah dampak yang perlu diantisipasi antara lain kekeringan, menurunnya ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Ia menyebut berdasarkan prakiraan BMKG dan Badan Meteorologi Dunia, El Niño diperkirakan bertahan hingga Februari 2027. Kondisi tersebut dapat berimbas terhadap mundurnya awal musim hujan di sejumlah wilayah.

“Berdasarkan prakiraan BMKG dan Badan Meteorologi Dunia, El Niño diperkirakan masih berlangsung hingga Februari 2027. Dampaknya, awal musim hujan berpotensi mengalami kemunduran. Karena itu, mitigasi perlu diperkuat, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi kemarau,” jelasnya.

Surabaya Masih Berada di Puncak Kemarau

Prakirawan BMKG Juanda, Siska Anggraeni, mengatakan Kota Surabaya saat ini masih berada dalam periode puncak musim kemarau.

Kondisi tersebut ditandai dengan cuaca yang terik pada siang hari serta kelembapan udara yang relatif rendah. Situasi itu membuat suhu di wilayah Surabaya terasa semakin panas.

Pada periode September hingga November yang secara umum mulai memasuki masa peralihan menuju musim hujan, curah hujan di Surabaya justru diprakirakan masih relatif rendah.

Menurut Siska, kondisi tersebut tidak terlepas dari pengaruh El Niño yang masih cukup kuat.

“Pengaruh El Niño yang masih kuat ini kemungkinan akan memundurkan awal musim hujan. Jadi, curah hujan masih relatif rendah karena kondisi kemarau yang diperkuat oleh fenomena tersebut,” kata Siska.

Ia menjelaskan, rendahnya tutupan awan membuat radiasi matahari lebih banyak langsung mencapai permukaan bumi. Kondisi ini semakin terasa di kawasan perkotaan seperti Surabaya akibat adanya efek pemanasan perkotaan atau urban heat.

Siska menambahkan, masyarakat perlu mewaspadai sejumlah ancaman hidrometeorologi kering selama periode kemarau.

“Untuk hidrometeorologi kering di Surabaya, yang perlu diwaspadai antara lain kekeringan meteorologis, krisis suplai air bersih, serta potensi kebakaran lahan dan permukiman,” pungkasnya.

Ancaman Berbeda di Tiap Wilayah Surabaya

BMKG Juanda juga mengingatkan bahwa dampak musim kemarau tidak selalu sama di seluruh wilayah Kota Surabaya. Karakteristik wilayah membuat potensi ancaman di setiap kawasan berbeda.

  • Surabaya Barat dan Selatan: Banyak terdapat vegetasi serta lahan terbuka sehingga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan.
  • Surabaya Utara dan Timur: Berada di kawasan pesisir sehingga masyarakat perlu mengantisipasi potensi banjir rob serta angin kencang.
  • Surabaya Pusat: Perlu mewaspadai kekeringan dan angin kencang, terutama di tengah tingginya aktivitas dan mobilitas masyarakat.

BMKG Juanda mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah memperkuat langkah mitigasi, khususnya dalam menjaga ketersediaan air serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak kemarau yang lebih panjang.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *